9 Hal Unik Seputar Hari Raya Idul Fitri


Bagi kaum muslim, Idul Fitri merupakan salah satu momen yang paling istimewa dari seluruh hari. Semua ummat muslim di seluruh dunia merayakannya dengan penuh kebahagian. Hal ini dikarenakan telah berhasil berjuang menahan lapar, haus dan hawa nafsu selama satu bulan lamanya di bulan yang penuh berkah, bulan Ramadhan.
Sebelum kita ikut merayakan hari yang juga biasa disebut dengan lebaran ini, ini nih udah kami rangkum hal2 yang perlu kamu tahu seputar lebaran.

1. Sejarah Hari Raya
Sebelum ajaran Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw di Makkah, masyarakat Jahiliyah Arab ternyata sudah memiliki dua hari raya, yakni Nairuz dan Mahrajan.
Kaum Arab Jahiliyah menggelar kedua hari raya itu dengan menggelar pesta pora. Selain menari-nari, baik tarian perang maupun ketangkasan, mereka juga merayakan hari raya dengan bernyanyi dan menyantap hidangan lezat serta minuman memabukkan.
Mengutip dari Ensiklopedia Islam, ’Nairuz dan Mahrajan merupakan tradisi hari raya yang berasal dari zaman Persia Kuno.’

Setelah turunnya kewajiban menunaikan ibadah puasa Ramadhan pada 2 Hijriyah, dua hari raya itu digantikan dengan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa’i, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR Daud dan Nasai)

2. Sejarah Idul Fitri
Nah Sejarah Idul Fitri sendiri Menurut Ensiklopedia Islam, Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran untuk pertama kalinya dirayakan umat Islam selepas Perang Badar pada 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijiriyah.
Dalam pertempuran itu, umat Islam meraih kemenangan. Pasukan kaum Muslimin yang hanya berjumlah 319 orang harus berhadapan dengan 1.000 tentara dari kaum kafir Quraisy.
Di tahun itulah, Rasulullah SAW dan para sahabat merayakan dua kemenangan sekaligus, yakni keberhasilan mengalahkan pasukan kaum kafir Quraisy dalam Perang Badar dan menaklukkan hawa nafsu setelah sebulan berpuasa.
Dari sinilah lahirnya ungkapan “Minal ‘Aidin wal Faizin” yang lengkapnya ungkapan doa kaum Muslim saat itu: Allahummaj ‘alna minal ‘aidin walfaizin, yang artinya Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali (dari Perang Badar) dan mendapatkan kemenangan.
Menurut sebuah riwayat, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat menunaikan Shalat Idul fitri pertama kali dalam kondisi luka-luka yang masih belum pulih akibat Perang Badar.

3. Asal kata Lebaran
Lebaran, nama lain yang diberikan kepada hari raya Idul Fitri ini, berasal dari tradisi Hindu yang berarti selesai, usai, atau habis. Kata lebaran juga terdapat dalam bahasa Jawa Ngoko, yang berarti wis bubar sebagai istilah yang menandakan berakhirnya bulan Ramadan dan datangnya bulan Syawal.
Lebaran di nusantara dirayakan dengan berbagai kebiasaan mulai dari pemberian tunjangan hari raya (THR) hingga halalbihalal.

4. Tunjangan Hari Raya (THR)
THR lahir dari persoalan ekonomi yang melilit di dalam situasi politik yang tidak menentu. Setelah perjuangan yang dilakukan sejak 1951, THR kini menjadi hak seluruh pekerja.
Gimana ni temen2 warganetizen? Udah pada cair kan THR nya?? Hehee


5. Baju Baru
Sementara itu, tradisi menggunakan baju baru ketika hari raya, menurut Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam buku Sejarah Nasional Indonesia, dimulai sejak abad ke 16 di keluarga Kerajaan Banteng.
Keinginan keluarga kerajaan untuk mengenakan baju baru ketika hari raya itu kemudian ditanggapi oleh para penduduk, yang mayoritas petani, kemudian dengan menjadi tukang jahit dadakan. Banyak orang menilai bahwa baju baru itu sebagai simbol diri "lahir atau kembali fitri (suci)" setelah menjalankan ibadah puasa.
Namun simbol, bisa saja sekadar tanda tanpa makna, jika kita tidak menghayatinya.

Btw, udah berapa nih baju barunya temen2??

6. Mudik
Tradisi lainnya adalah mudik yang dilakukan sejak zaman Majapahit. Meskipun istilah tersebut baru lahir kemudian dan menjadi tren setelah urbanisasi besar-besaran, para perantau Majapahit dulu pergi ke daerah-daerah yang telah ditaklukan. Kemudian mereka akan pulang untuk sementara ke Jawa demi berkumpul bersama keluarga.
Mudik kemudian menjadi tradisi dan agenda nasional yang rutin setiap tahunnya.

7. Petasan
Sementara petasan, yang biasanya ramai di bulan-bulan Ramadhan hingga lebaran, dipengaruhi oleh budaya Tiongkok. Petasan menjadi alat komunikasi, penyampai kabar adanya pesta, acara besar, dan atau syukuran. Begitu pun petasan yang biasa meramaikan malam-malam Ramadan hingga akhir lebaran, sebagai penanda "pesta" perayaan Idul Fitri.
Oleh karenanya, petasan menjadi salah satu ciri akulturasi budaya Tiongkok dan Islam, selain baju koko.

Tapi saran kami sih jangan main petasan di dekat rumah yang ada orang tua nya ya.. kasian nanti kalau jantungan gimana...

8. Ketupat
Bentuk akulturasi budaya lainnya adalah ketupat, makanan yang dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga ini merupakan upaya penyebaran Islam melalui kebudayaan agraris beserta mitos yang hidup kala itu. Ketupat kini menjadi makanan khas hari raya yang hampir tidak pernah terlewatkan.
Acara terakhir adalah halalbihalal, acara berkumpul untuk saling bermaaf-maafan ini diperkenalkan oleh Mangkunegara. Untuk efisiensi waktu, tenaga, dan biaya, pangeran yang dikenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa ini mengumpulkan para punggawa istana untuk sungkem bersama kepada raja dan permaisuri.

9. Halalbihalal
Namun istilah halalbihalal sendiri baru diperkenalkan pada 1948 oleh K.H Wahab Chasbullah. Kala itu Sukarno meminta pendapat terkait nama lain penyebutan kumpul untuk silaturahmi, mencari keharmonisan hubungan dengan saling memaafkan kesalahan.
Setiap tradisi memiliki kisah yang berbeda-beda, baik karena pengaruh budaya ataupun sosial politik yang berlaku.


Nah itu tadi 9 hal unik di saat lebaran, semoga dengan mengetahui asal usul hal ini kita bisa makin semangat nih lebaran nya...

Kami dari warganetizen mengucapkan Minal aidin walfaizin mohon maaf lahir batin ya semuanya.

Salam warganetizen

0 Response to "9 Hal Unik Seputar Hari Raya Idul Fitri"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel